BOGORTAKALAR

Semua Cerita, Antara Bogor dan Takalar

Hijrah dan Makna Toleransi: Refleksi Tahun Baru Hijriah

December26

Assalamualaikum wr wb

Selamat pagi semua di tahun baru Islam ini. Mudah-mudahan tahun yang baru ini tidak hanya dirayakan dalam makna “usia bertambah” ataupun berkurang, namun selayaknya lebih bijak dalam mengambil hikmah lain yang bisa mencerahkan pemikiran kita. Salah satu refleksi yang bisa kita tempatkan di sini adalah makna intoleransi, agama minoritas dan tahun baru Islam. Loh? Apa hubungannya?

Sejenak, dengarkan cerita saya dulu.

Seorang kawan yang pernah kuliah di Jepang, berbagi pengalaman kepada saya terkait bagaimana dia menjalani hidup sebagai pemeluk agama minoritas di Negeri Matahari Terbit itu. Kisah itu bermula ketika dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Jepang untuk kuliah di salah satu Universitas ternama di Kyoto. Sewaktu kuliah perdana, sang dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk memperkenalkan diri. Nah, ketika selesai beliau berkenalan, beliau mengaku bagaimana teman2 Jepangnya yang beragama Sinto (mayoritas) kemudian tertarik karena mengetahui bahwa beliau seorang muslim (minoritas). Dan setelah itu beliau merasakan bagaimana orang-orang Jepang begitu menghargai toleransi -meski kepada minoritas. Suatu hari, ketika waktu sholat Dhuhur masuk, beliau bingung dimana hendak menunaikan sholat. Maka dengan sedikit keberanian beliau menanyakan kepada Sensei-nya (supervisor), dan apa jawaban sensei?

“Untuk sementara, silahkan pakai ruangan saya dulu..”. Begitu berharganya toleransi bagi mereka. Hingga kemudian atas bantuan sensei tadi, kini, Universitas itu sudah punya tempat permanen untuk ibadah para muslim dan muslimah. Kerukunan. Sekali lagi, kuncinya adalah toleransi.

Telah kita ketahui bersama -sebagaimana dalam sirah- bahwa era dakwah terang-terangan dimulai setelah salah satu “Singa Islam” yakni Umar bin Khattab memutuskan untuk hijrah keyakinan. Kemudian, sejarah menyaksikan bagaimana Umar kemudian berkata kepada Abu Bakar: “Bukankah kita adalah benar, dan mereka adalah salah?”, setelah itu bergulirlah dakwah Islam untuk pertama kalinya secara terang-terangan. Namun tantangan dakwah justru semakin bertambah di era tersebut. Akumulasi dari penghinaan, pelecehan, pengrusakan, pembunuhan dan tindakan sadisme serta semena-mena lainnya kemudian membuat Rasulullah SAW membuat keputusan yang kelak dicatat sebagai perdana dimulainya tanggal 1 Muharram tahun 1: Hijrah!

Peristiwa Hijrah terjadi pada tahun 622 M: Sahabat dan nabi Muhammad SAW kemudian hijrah, dari Makkah, ke Madinah Al Munawwarah, negara yang kelak menyinari dunia.

Makkah

Dulu menjadi saksi bagaimana Abu Jahal dan sekutu-sekutunya bersatu padu dengan kelompok mayoritas (Musyrikun) bertindak secara represif karena keyakinan mereka merasa diusik dengan adanya keyakinan baru yang dibawa oleh Muhammad SAW, hal ini memaksa kelompok minoritas (Muslim) memutuskan untuk keluar dari Makkah (hijrah) menuju Madinah. Makkah sebelum proses hijrah saya analogikan sebagai “Represi mayoritas terhadap minoritas”. Makkah ketika itu, dihuni oleh mayoritas yang intoleran terhadap kaum minoritas, sehingga agama dijadikan komoditi utama, alasan menolak keyakinan baru yang dibawa Muhammad SAW: Islam. Muhammad SAW dan sahabatnya hijrah. Makkah kemudian menjadi mimpi dan cita-cita banyak muslim waktu itu. Hingga kemudian hari peristiwa indah itu terjadi: Fathu Makkah. Dari Makkah sebelum hijrah, kita bisa melihat contoh nyata intoleransi.

Madinah

Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW menugaskan Mus’ab bin Umair untuk menjadi duta ke negara Madinah. Maka sebelum peristiwa hijrah terjadi, kita bisa menyaksikan bagaimana sejarah mencatat penduduk Madinah -atas kemampuan diplomasi Mus’ab bin Umair- mendendangkan lantunan sholawat menyambut kedatangan Rasulullah di pintu Madinah, ketika hijrah. Madinah dan penduduknya bagi saya adalah bukti dari betapa agungnya toleransi. Dan kita bisa menyaksikan bagaimana toleransi bisa mengubah dunia: Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajrin dan kaum Anshar, negara Madinah didirikan. Islam, setidaknya dimulai dari negara Madinah, kemudian menyinari dunia dan pernah dipeluk oleh paling kurang 1/3 penduduk dunia.

Kawan, dengan berupa-rupanya suku dan kompleksitasnya di dunia ini, cara mengubah dunia ini harus dimulai dari laku nyata itu: TOLERANSI.

Dari Makkah sebelum hijrah, ke Madinah setelah hijrah, mari kemudian kita melompat ke Indonesia, negara tercinta, setelah peristiwa hijrah berlalu selama 1432 tahun.

Indonesia

Bicara tentang Indonesia dan toleransi, sebagai seorang mayoritas yaitu muslim, saya cuma mau bilang seperti ini:

“Pantaskah kita keberatan atas perlakuan oknum Yunani terhadap kaum muslim di sana, lalu kita menutup mata terhadap perlakuan intoleran kita terhadap minoritas di negeri ini?”

Bogor, 7 Desember 2010

Muh. Ihsan Harahap

Juga dipostkan di http://www.facebook.com/notes/muhammad-ihsan-harahap-al-qassam/ibumu-ibumu-ibumu/476935282334#!/note.php?note_id=469395872334

posted under Academic

Email will not be published

Website example

Your Comment: