BOGORTAKALAR

Semua Cerita, Antara Bogor dan Takalar

Generasi Anti-nyontek (Cerita Inspirasi I – Tugas MPKMB 47)

September17
Muh. Ihsan Harahap

NRP. C54100009

Laskar 30

Generasi Anti-nyontek

Waktu itu, beberapa pekan lagi Ujian Nasional (UN) tahun 2010 akan dilaksanakan. Sebuah ujian yang menurut sebagian besar siswa di sekolah saya, SMAN 1 Takalar, adalah ujian intelejensia, kepercayaan diri, dan tentu saja ujian keimanan. Mengapa ujian keimanan? Mungkin sudah menjadi budaya, saling contek-menyontek di sebagian besar sekolah di negeri ini di setiap kali UN adalah hal yang biasa, sehingga, kadar keimanan seseorang pun berperan dalam setiap ujian nasional.

Di SMAN 1 Takalar, tidak bisa dinafikan banyaknya praktik-praktik kecurangan selama sejarah ujian nasional dilaksanakan. Artinya, jika realita ini tidak dipandang dengan serius dan tidak diproyeksikan dengan persepsi para siswa bahwa “menyontek adalah dosa”, maka bisa saja secara tidak langsung ujian nasional bisa menjadi ajang “produksi” siswa-siswa tidak jujur dan juga membentuk siswa pencontek dan malas belajar. Padahal, para pelajar adalah masa depan bangsa ini. Kalau selama menjadi pelajar saja, para siswa tidak jujur, bagaimana jika mereka yang nanti kelak memimpin negeri ini? Semoga Negeri ini terhindar dari “makar” ini.

Dengan cara berpikir di atas, Tarbiyah Club sebagai organisasi kerohanian di SMAN 1 Takalar berinisiatif untuk membuat program kerja dengan tema besar “Generasi Anti-nyontek”. Program ini dimaksudkan sebagai persiapan bagi para siswa-siswi SMAN 1 Takalar untuk berlaku jujur dalam dan selama menghadapi Ujian Nasional 2010, membentuk Generasi Anti-nyontek di SMAN 1 Takalar. Sebuah langkah kecil, dengan ikhtiar yang besar untuk masa depan bangsa.

Tiga pekan sebelum Ujian Nasional 2010 dilaksanakan, program Generasi Anti-nyontek diluncurkan. Peluncuran program ini dilaksanakan melalui media buletin rutin “Azzam” dan juga melalui mading-mading di SMAN 1 Takalar. Tanggapan yang bermunculan pun bermacam-macam, ada yang mendukung, mencela, memprovokasi, bahkan ada yang dengan sengaja menolak dengan mengadakan pembakaran bersama media sosialisasi program Generasi Anti-nyontek (Buletin Azzam) sampai pada kurangnya dukungan pihak sekolah untuk mendukung program kami. Bahkan, yang lebih keterlaluan lagi, beberapa pemrakarsa dari program ini diinterogasi secara sepihak oleh kelompok-kelompok yang tidak setuju dengan program ini. Tapi, karena tekad kami sudah bulat, sesuai dengan karakter ilmuan: Berani menyatakan apa yang diyakini dengan jujur. Maka, kami lanjutkan program ini dengan segala konsuekuensinya.

***

Ujian Nasional 2010 berlangsung. Hari pertama dilalui dengan dua mata pelajaran yang jika dilihat dari faktor ketidaklulusan siswa setiap tahun adalah dua mata pelajaran ini: Bahasa Indonesia dan Biologi. Ketegangan dirasakan semua peserta program Generasi Anti-nyontek ini. Bahkan di tengah jalan, banyak yang mau keluar dari program, namun, setelah diyakinkan bahwa lebih baik tidak lulus karena tidak menyontek daripada lulus dengan nilai bagus tapi dengan proses yang tidak baik. Ini harga diri, Bung!

***

Pengumuman Ujian Nasional 2010 sudah keluar. Setiap siswa di SMAN 1 Takalar menanggung perasaan yang sama: tegang. Bagaimana tidak? Jikalau ternyata ditakdirkan tidak lulus ujian utama ini, maka “terpaksa” ikut ujian pengulangan, meskipun ternyata ujian pengulangan ini bukan “paket C”, namun tentu saja “gengsi”-nya beda.

Pengumuman pun keluar. Dari pemaparan Kepala Sekolah, disampaikan bahwa ada 17 orang siswa-siswi yang tahun ini harus mengikuti ujian pengulangan. Dan Tuhan berkehendak bahwa salah satu dari peserta program Generasi Anti-nyontek adalah salah satunya. Tak apa, kami telah membuat sejarah di sekolah ini.

Ilmuwan boleh salah, tetapi tidak boleh bohong!

posted under Academic

Email will not be published

Website example

Your Comment: