BOGORTAKALAR

Semua Cerita, Antara Bogor dan Takalar

Ibumu, Ibumu, Ibumu

December26

Ibu. Seorang yang rela berlelah-lelah dalam waktu 9 bulan mengandungmu, menantang kemampuan maksimalnya. Seorang yang rela membawamu kemanapun yang kau mau, bahkan ketika kau tak memintanya, sewaktu dalam perutnya. Ketika dia telah cukup waktu untuk melahirkanmu, dia menggadaikan nyawa untuk menghadirkan nyawamu, melihat dunia.

Ibu. Yang Allah swt firmankan jangan berkata ‘ah’ kepadanya. Akumulasi kasih sayangnya adalah kesabarannya menghadapimu, ketegarannya melihat tingkah nakalmu, juga kebanggaannya atas keberhasilanmu. Ibu, yang surga di bawah telapak kakinya.

Tahukah kau Abu Hurairah R.A? Seorang perawi yang dijuluki demikian karena kasih sayangnya kepada kucing, beliau pernah berkisah -juga termaktub dalam hadits Bukhari-Muslim-: Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab, “Ibumu! Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab lagi, “Ibumu!” Ia balik bertanya, “Siapa lagi?” Rasul kembali menjawab, “Ibumu!” Ia kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu!”.

Semudah telapak dibalik, semudah itu pula pengampunan ibu atasmu. “Ridho Allah terletak pada keridhoan kedua orang tua dan murka Allah terletak pada kemurkaan kedua orang tua” (HR. At Tirmidzi). Selamatlah engkau jika Ibumu ridho atasmu, celakalah engkau jika mengingkari Allah swt dan ibumu.

Mari kita dengar hadits Qudsi riwayat Ahmad dari Syurahbil bin Syuaah yang bersumber dari sahabat Nabi SAW. Mungkin hadits qudsi ini yang harus kita ulang-ulang pengharapannya di setiap doa kita:

Allah SWT berfirman pada hari kiamat kepada anak-anak: “Masuklah kalian kedalam surga!” Anak-anak itu itu berkata: “Ya Rabbi (kami menunggu) hingga ayah ibu kami masuk.” Lalu mereka mendekati pintu surga, tapi tidak mau masuk ke dalamnya. Allah berfirman lagi: “Mengapa, Aku lihat mereka enggan masuk? Masuklah kalian ke dalam surga!”

Mereka menjawab: “Tetapi (bagaimana) orang tua kami?” Allah pun berfirman: “Masuklah kalian bersama orangtua kalian”

Mudah-mudahan, dengan amalan-amalan kita, kita termasuk di dalamnya. Aamiin.

Bogor, 22 Desember 2010

Muh. Ihsan Harahap

posted under Academic | No Comments »

Ujian: Ketika Tuhan Berbicara kepada Kita

December26

Bencana. Musibah. Mungkin, jika kita mendengar dua kata tadi, pikiran kita akan tertuju pada bencana yang baru saja terjadi di Wasior, Mentawai dan Merapi. Baru-baru ini juga saya mendengar kabar bahwa kota asal saya, Makassar, dilanda gempa 5,2 skala richter[1]. Begitulah ujian, ia akan menimpa siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Bencikah Tuhan kepada kita?

Tentu saja tidak. Tapi, menurut saya, ini baru sebatas ‘ujian’ dari Tuhan untuk kita. Ujian yang bertujuan sebagaimana ujian-ujian yang telah pernah kita lalui: untuk menguji kompetensi keberimanan kita. Namun, tentu saja ujian bukan hanya soal kompetensi keberimanan personal, tentunya kita bisa menarik ibroh dari kisah tentang pemuda yang hendak melubangi perut kapal: kita harus meningkatkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bukankah di suatu wilayah, jika ada seorang yang bermaksiat secara terus menerus -namun tak ada seorang beriman pun yang menasehatinya- maka Allah swt akan menurunkan bencananya kepada wilayah tersebut?

Lagipula, kita tetap harus melirik ayat ini:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah swt merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”[2]

Bahwa Allah swt menegaskan, segala kerusakan yang terjadi di bumi ini disebabkan akibat dari perbuatan kita sendiri. Kemudian masih dalam ayat yang sama Allah berfirman bahwa bencana itu terjadi supaya kita sadar betapa beratnya sebuah bencana dan agar mereka kembali ke jalan yang benar. Sesimpel itu sebenarnya: kita berbuat, kita melihat dan kita bertanggung jawab.

Bagaimana cara kita bertanggung jawab?

Tentu saja, dengan kembali ke jalan yang benar seperti yang telah ditunjukkan Allah swt dalam Al-Qur’an. Amar ma’ruf nahi mungkar, tentu saja itu ‘bahasa’ dari aktualisasi ‘kembali ke jalan yang benar’. Kita bisa melihat bencana-bencana yang telah diturunkan kepada kaum-kaum para nabi sebelum kita, mereka ditimpa bencana karena perbuatan dosa yang sudah terlewat batas, meskipun masih ada para nabi yang berdakwah kepada mereka, tapi karena mereka sudah melampaui batas.

Melampaui batas, it’s the point! Melampaui batas merupakan bahasa nyata kita kepada Tuhan agar dia ‘menurunkan bencananya kepada kita’. Bahasa saya kontroversial? Tentu saja saya tidak sekeren itu. Saya menafsirkan Surat Ar-Rum ayat 41 dengan sedikit referensi[3] dari para ulama, mudah-mudahan Allah swt mengampuni saya atas ‘penafsiran bebas’ saya yang banyak, mengenai ‘penafsiran bebas’, jangan anda menuduh saya anggota ataupun simpatisan dari Jil atau Jaringan Islam Liberal, tentu saja, saya tak setolol itu.

Terakhir, saya ingin mengutip quote dari seorang gila dalam penjara yang tak dijelaskan namanya di film Ayat-ayat Cinta, dia menasehati Fahri yang kala itu ditimpa bencana: difitnah memperkosa Noura, tiba-tiba dicurigai Aisyah sang istri dan dikeluarkan dari Universitas Al-Azhar. Orang gila itu bercerita tentang nabi Yusuf Alaihi Salam yang difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara karena telah dituduh memperkosa sang ratu: Zulaikha. Zulaikha menuduh Yusuf memperkosanya, padahal Zulaikha sendiri yang tidak tahan kepada ketampanan yusuf. Fitnah. Zulaikha pun menuduh Yusuf. Yusuf dipenjara.

“Apakah Yusuf berontak? Tidak, fahri. Yusuf tahu Allah sedang berbicara kepadanya. Kau mau tahu apa yang dikatakan yusuf?

Yusuf berkata: ‘ya Allah, jika memang kehidupan penjara lebih berarti bagiku daripada dunia luar, maka aku lebih memilih di penjara tapi dekat dengan-Mu! Daripada aku hidup bersama dengan manusia pendusta, ya Allah..’

Allah sedang berbicara kepadamu tentang sabar dan ikhlas!

Sabar dan ikhlas, itulah Islam, fahri.”[4]

Subhanallah, mutiara bisa diambil darimana saja, pun orang gila. Indonesia, sabar dan ikhlaslah. Bersama kita berubah, menuju baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.

Insya Allah.

Bogor, 19 Desember 2010. 07.40 pagi

Tulisan ini adalah esai studium general PAI IPB.

Juga dipostkan di http://www.facebook.com/ihsanadh#!/note.php?note_id=475955612334

[1] http://www.detik.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/11/tgl/24/time/155723/idnews/712421/idkanal/10

[2] Terjemahan Q.S. Ar-Rum ayat 41

[3] Dapat dilihat di http://adji-anginkilat.blogspot.com/2010/11/tafsir-ayat-ayat-tentang-lingkungan.html

[4] Orang gila’s quotes. Film Ayat-ayat Cinta,  part II, menit ke 25:46 sampai 27:35

posted under Academic | No Comments »

Hijrah dan Makna Toleransi: Refleksi Tahun Baru Hijriah

December26

Assalamualaikum wr wb

Selamat pagi semua di tahun baru Islam ini. Mudah-mudahan tahun yang baru ini tidak hanya dirayakan dalam makna “usia bertambah” ataupun berkurang, namun selayaknya lebih bijak dalam mengambil hikmah lain yang bisa mencerahkan pemikiran kita. Salah satu refleksi yang bisa kita tempatkan di sini adalah makna intoleransi, agama minoritas dan tahun baru Islam. Loh? Apa hubungannya?

Sejenak, dengarkan cerita saya dulu.

Seorang kawan yang pernah kuliah di Jepang, berbagi pengalaman kepada saya terkait bagaimana dia menjalani hidup sebagai pemeluk agama minoritas di Negeri Matahari Terbit itu. Kisah itu bermula ketika dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Jepang untuk kuliah di salah satu Universitas ternama di Kyoto. Sewaktu kuliah perdana, sang dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk memperkenalkan diri. Nah, ketika selesai beliau berkenalan, beliau mengaku bagaimana teman2 Jepangnya yang beragama Sinto (mayoritas) kemudian tertarik karena mengetahui bahwa beliau seorang muslim (minoritas). Dan setelah itu beliau merasakan bagaimana orang-orang Jepang begitu menghargai toleransi -meski kepada minoritas. Suatu hari, ketika waktu sholat Dhuhur masuk, beliau bingung dimana hendak menunaikan sholat. Maka dengan sedikit keberanian beliau menanyakan kepada Sensei-nya (supervisor), dan apa jawaban sensei?

“Untuk sementara, silahkan pakai ruangan saya dulu..”. Begitu berharganya toleransi bagi mereka. Hingga kemudian atas bantuan sensei tadi, kini, Universitas itu sudah punya tempat permanen untuk ibadah para muslim dan muslimah. Kerukunan. Sekali lagi, kuncinya adalah toleransi.

Telah kita ketahui bersama -sebagaimana dalam sirah- bahwa era dakwah terang-terangan dimulai setelah salah satu “Singa Islam” yakni Umar bin Khattab memutuskan untuk hijrah keyakinan. Kemudian, sejarah menyaksikan bagaimana Umar kemudian berkata kepada Abu Bakar: “Bukankah kita adalah benar, dan mereka adalah salah?”, setelah itu bergulirlah dakwah Islam untuk pertama kalinya secara terang-terangan. Namun tantangan dakwah justru semakin bertambah di era tersebut. Akumulasi dari penghinaan, pelecehan, pengrusakan, pembunuhan dan tindakan sadisme serta semena-mena lainnya kemudian membuat Rasulullah SAW membuat keputusan yang kelak dicatat sebagai perdana dimulainya tanggal 1 Muharram tahun 1: Hijrah!

Peristiwa Hijrah terjadi pada tahun 622 M: Sahabat dan nabi Muhammad SAW kemudian hijrah, dari Makkah, ke Madinah Al Munawwarah, negara yang kelak menyinari dunia.

Makkah

Dulu menjadi saksi bagaimana Abu Jahal dan sekutu-sekutunya bersatu padu dengan kelompok mayoritas (Musyrikun) bertindak secara represif karena keyakinan mereka merasa diusik dengan adanya keyakinan baru yang dibawa oleh Muhammad SAW, hal ini memaksa kelompok minoritas (Muslim) memutuskan untuk keluar dari Makkah (hijrah) menuju Madinah. Makkah sebelum proses hijrah saya analogikan sebagai “Represi mayoritas terhadap minoritas”. Makkah ketika itu, dihuni oleh mayoritas yang intoleran terhadap kaum minoritas, sehingga agama dijadikan komoditi utama, alasan menolak keyakinan baru yang dibawa Muhammad SAW: Islam. Muhammad SAW dan sahabatnya hijrah. Makkah kemudian menjadi mimpi dan cita-cita banyak muslim waktu itu. Hingga kemudian hari peristiwa indah itu terjadi: Fathu Makkah. Dari Makkah sebelum hijrah, kita bisa melihat contoh nyata intoleransi.

Madinah

Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW menugaskan Mus’ab bin Umair untuk menjadi duta ke negara Madinah. Maka sebelum peristiwa hijrah terjadi, kita bisa menyaksikan bagaimana sejarah mencatat penduduk Madinah -atas kemampuan diplomasi Mus’ab bin Umair- mendendangkan lantunan sholawat menyambut kedatangan Rasulullah di pintu Madinah, ketika hijrah. Madinah dan penduduknya bagi saya adalah bukti dari betapa agungnya toleransi. Dan kita bisa menyaksikan bagaimana toleransi bisa mengubah dunia: Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajrin dan kaum Anshar, negara Madinah didirikan. Islam, setidaknya dimulai dari negara Madinah, kemudian menyinari dunia dan pernah dipeluk oleh paling kurang 1/3 penduduk dunia.

Kawan, dengan berupa-rupanya suku dan kompleksitasnya di dunia ini, cara mengubah dunia ini harus dimulai dari laku nyata itu: TOLERANSI.

Dari Makkah sebelum hijrah, ke Madinah setelah hijrah, mari kemudian kita melompat ke Indonesia, negara tercinta, setelah peristiwa hijrah berlalu selama 1432 tahun.

Indonesia

Bicara tentang Indonesia dan toleransi, sebagai seorang mayoritas yaitu muslim, saya cuma mau bilang seperti ini:

“Pantaskah kita keberatan atas perlakuan oknum Yunani terhadap kaum muslim di sana, lalu kita menutup mata terhadap perlakuan intoleran kita terhadap minoritas di negeri ini?”

Bogor, 7 Desember 2010

Muh. Ihsan Harahap

Juga dipostkan di http://www.facebook.com/notes/muhammad-ihsan-harahap-al-qassam/ibumu-ibumu-ibumu/476935282334#!/note.php?note_id=469395872334

posted under Academic | No Comments »

Mengenal Shofwan Al-Banna Choiruzzad, Pemenang penghargaan di 39th St Gallen Symposium – Switzerland (Cerita Inspirasi II – Tugas MPKMB 47)

September17


Muh. Ihsan Harahap

NRP. C54100009

Laskar 30

“Kapasitas anak-anak Indonesia tidaklah kalah untuk bersaing dengan siswa asing di bidang pendidikan. Hanya saja, kata dia, sistem pendidikan di Indonesia belum bisa menyatukan potensi-potensi anak bangsa yang tersebar, yang jika disatukan bisa menjadi kekuatan besar. Barangkali, selama ini kita hanya kurang baik manajemennya” kata Shofwan Al-Banna Choiruzzad.

Sofwan adalah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Jepang memenangkan The 39th St Gallen Symposium yang berlangsung di Swiss, 7–9 May 2009.

St Gallen Symposium adalah acara tahunan yang dihadiri sejumlah pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia untuk berdialog dengan para pemimpin muda. Dalam acara tersebut, para ratusan pemimpin muda diseleksi lewat karya tulis bertemakan krisis global, untuk kemudian diambil 3 terbaik dan dipersilakan menyampaikan gagasannya di hadapan forum dunia.

Anak muda kelahiran Juli 1985 ini, menjadi pemenang pertama dari tiga besar tersebut. Dengan karya tulis berjudul ‘Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors’, ia mengungguli Jason George, mahasiswa program master dari Harvard University (peringkat 2) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (peringkat 3).

“Saya bersyukur dan (penghargaan ini) membuatku yakin bahwa kita semua bisa menciptakan Indonesia yang lebih baik di masa depan,” ujar Shofwan.

Di kota tua St Gallen itu, sejumlah 600 pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia berkumpul untuk berdialog dengan 200 pemimpin muda  mengenai krisis global hari ini.

Dari kalangan politisi, daftar pembicaranya antara lain Presiden Swiss Hans-Rudolf Merz, Presiden Serbia Boris Tadic, Presiden Estonia Ilves, Kepala Japan Bank for International Cooperation Hiroshi Watanabe, Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Hiroyuki Ishige, Menteri Perdagangan dan Industri India Kamal Nath, sampai Menteri Keuangan Singapura Shanmugaratnam.

Nama-nama besar juga ada di daftar pembicara dari kalangan bisnis. Mulai dari CEO PriceWaterHouseCoopers, CFO Airbus, wakil dewan direktur FIAT, direktur Hindustan Construction, sampai Pimpinan Dewan Direktur Embraer Brazil.

Selain dari kalangan politik dan bisnis, tokoh dunia lain yang tampil di depan adalah para ilmuwan seperti Pemenang Nobel Robert Aumann, Presiden Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) Torsten Akesson dan juga jurnalis seperti Riz Khan dari Al Jazeera dan Peter Day dari BBC.

posted under Academic | No Comments »

Generasi Anti-nyontek (Cerita Inspirasi I – Tugas MPKMB 47)

September17
Muh. Ihsan Harahap

NRP. C54100009

Laskar 30

Generasi Anti-nyontek

Waktu itu, beberapa pekan lagi Ujian Nasional (UN) tahun 2010 akan dilaksanakan. Sebuah ujian yang menurut sebagian besar siswa di sekolah saya, SMAN 1 Takalar, adalah ujian intelejensia, kepercayaan diri, dan tentu saja ujian keimanan. Mengapa ujian keimanan? Mungkin sudah menjadi budaya, saling contek-menyontek di sebagian besar sekolah di negeri ini di setiap kali UN adalah hal yang biasa, sehingga, kadar keimanan seseorang pun berperan dalam setiap ujian nasional.

Di SMAN 1 Takalar, tidak bisa dinafikan banyaknya praktik-praktik kecurangan selama sejarah ujian nasional dilaksanakan. Artinya, jika realita ini tidak dipandang dengan serius dan tidak diproyeksikan dengan persepsi para siswa bahwa “menyontek adalah dosa”, maka bisa saja secara tidak langsung ujian nasional bisa menjadi ajang “produksi” siswa-siswa tidak jujur dan juga membentuk siswa pencontek dan malas belajar. Padahal, para pelajar adalah masa depan bangsa ini. Kalau selama menjadi pelajar saja, para siswa tidak jujur, bagaimana jika mereka yang nanti kelak memimpin negeri ini? Semoga Negeri ini terhindar dari “makar” ini.

Dengan cara berpikir di atas, Tarbiyah Club sebagai organisasi kerohanian di SMAN 1 Takalar berinisiatif untuk membuat program kerja dengan tema besar “Generasi Anti-nyontek”. Program ini dimaksudkan sebagai persiapan bagi para siswa-siswi SMAN 1 Takalar untuk berlaku jujur dalam dan selama menghadapi Ujian Nasional 2010, membentuk Generasi Anti-nyontek di SMAN 1 Takalar. Sebuah langkah kecil, dengan ikhtiar yang besar untuk masa depan bangsa.

Tiga pekan sebelum Ujian Nasional 2010 dilaksanakan, program Generasi Anti-nyontek diluncurkan. Peluncuran program ini dilaksanakan melalui media buletin rutin “Azzam” dan juga melalui mading-mading di SMAN 1 Takalar. Tanggapan yang bermunculan pun bermacam-macam, ada yang mendukung, mencela, memprovokasi, bahkan ada yang dengan sengaja menolak dengan mengadakan pembakaran bersama media sosialisasi program Generasi Anti-nyontek (Buletin Azzam) sampai pada kurangnya dukungan pihak sekolah untuk mendukung program kami. Bahkan, yang lebih keterlaluan lagi, beberapa pemrakarsa dari program ini diinterogasi secara sepihak oleh kelompok-kelompok yang tidak setuju dengan program ini. Tapi, karena tekad kami sudah bulat, sesuai dengan karakter ilmuan: Berani menyatakan apa yang diyakini dengan jujur. Maka, kami lanjutkan program ini dengan segala konsuekuensinya.

***

Ujian Nasional 2010 berlangsung. Hari pertama dilalui dengan dua mata pelajaran yang jika dilihat dari faktor ketidaklulusan siswa setiap tahun adalah dua mata pelajaran ini: Bahasa Indonesia dan Biologi. Ketegangan dirasakan semua peserta program Generasi Anti-nyontek ini. Bahkan di tengah jalan, banyak yang mau keluar dari program, namun, setelah diyakinkan bahwa lebih baik tidak lulus karena tidak menyontek daripada lulus dengan nilai bagus tapi dengan proses yang tidak baik. Ini harga diri, Bung!

***

Pengumuman Ujian Nasional 2010 sudah keluar. Setiap siswa di SMAN 1 Takalar menanggung perasaan yang sama: tegang. Bagaimana tidak? Jikalau ternyata ditakdirkan tidak lulus ujian utama ini, maka “terpaksa” ikut ujian pengulangan, meskipun ternyata ujian pengulangan ini bukan “paket C”, namun tentu saja “gengsi”-nya beda.

Pengumuman pun keluar. Dari pemaparan Kepala Sekolah, disampaikan bahwa ada 17 orang siswa-siswi yang tahun ini harus mengikuti ujian pengulangan. Dan Tuhan berkehendak bahwa salah satu dari peserta program Generasi Anti-nyontek adalah salah satunya. Tak apa, kami telah membuat sejarah di sekolah ini.

Ilmuwan boleh salah, tetapi tidak boleh bohong!

posted under Academic | No Comments »

Goresan Perdana..

July6

“Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!”

Kalimat di atas adalah kalimat yang terposting secara automatis ketika saya membuka muh.harahap10.student.ac.id setelah sebelumnya login dengan akun saya di Captive Portal IPB. Huft, sebenarnya capek juga, ana bingung mau berkonsentrasi dimana, itu karena “kecerobohan” saya mengaktifkan  dan  main di tiga blog/web sekaligus: bogortakalar.multiply.com dan di bogortakalar.anakipb.com serta di web student IPB ini. Tapi tak apalah, ini juga untuk memajukan IPB, salah satunya tentu saja untuk menaikkan rangking di Webometrics (meskipun saya tidak pernah percaya metode perangkingan dari Webometrics).

Well, kita liat kelanjutannya. Mungkin saja ini adalah awal yang akan berkelanjutan. Atau mungkin ini tulisan pertama dan terakhir saya di sini (jangan nangis ya.. hehe..). Saya kira, sampai di sini saja dulu kali ya, kapan2 ane berbagi (apapun itu) lagi di sini.

Salam Hangat,

Muhammad Ihsan Harahap Daeng Rate :)

posted under Academic | 5 Comments »